TVRINews, Merauke
Ratusan petani di Kampung Ivimahad, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, terancam mengalami gagal panen akibat kekeringan yang berlangsung sejak Juni 2026. Kondisi ini semakin diperparah oleh buruknya akses jalan usaha tani, yang menyulitkan petani mengangkut hasil panen menuju jalan utama.
Kekeringan bukan hal baru bagi petani di Ivimahad, karena kondisi serupa kerap terjadi setiap musim kemarau. Namun para petani menilai kekeringan tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Salah satu petani Ivimahad, Fransiskus Balagaize, mengungkapkan bahwa ketersediaan air dan akses jalan usaha tani menjadi dua persoalan utama yang menghambat produksi maupun distribusi hasil pertanian warga. Menurutnya, kedua masalah tersebut saling berkaitan dan membuat petani semakin kesulitan mempertahankan hasil panen mereka.
“Kami harapkan kepada pemerintah provinsi papua selatan, mungkin dalam waktu singkat bapak gubernur dapat memerintahkan OPD terkait untuk membantu kami masyarakat untuk membersihkan tanggul, parit dan juga jalan usaha tani," kata Fransiskus kepada tvrinews.com, Rabu, 19 Agustus 2026.
Petani lainnya, Supriyanto, menyebutkan bahwa sekitar 70 hektare lahan pertanian di kampung tersebut terdampak kekeringan. Untuk mempertahankan tanaman agar tidak mati, para petani saat ini masih mengandalkan air dari Sungai Neto yang disedot menggunakan mesin pompa. Namun, jangkauan pengairan dengan cara tersebut kini semakin terbatas seiring meluasnya wilayah yang terdampak kekeringan.
Akibat kondisi ini, Supriyanto memperkirakan potensi kerugian yang akan dialami petani bisa mencapai sekitar 50 persen dari hasil panen yang diharapkan.
“Panen pada tahun ini terancam gagal, terhitung sejak bulan juni kami tidak punya cadangan air di tampungan sehingga menyebabkan kondisi sawah mengalami kekeringan dengan area luasan 70 hektar," ujar Supriyanto
Menghadapi situasi tersebut, para petani di Ivimahad berharap pemerintah segera turun tangan dengan memperbaiki parit dan saluran drainase yang saat ini mengalami pendangkalan. Selain itu, mereka juga meminta agar jalan usaha tani segera dibuka dan diperbaiki.
Menurut para petani, dua langkah tersebut dinilai mendesak untuk dilakukan agar distribusi air ke lahan pertanian kembali lancar, sekaligus mempermudah pengangkutan hasil panen menuju jalan utama. Tanpa perbaikan infrastruktur tersebut, petani khawatir ancaman gagal panen akan terus berulang setiap musim kemarau tiba.










